Untitled II

ga tau kenapa pola pikir dosen kedokteran sama teknik itu bisa mirip, emang iya, kebetulan atau karna aku yang lagi baper aja, kalo kemaren dari pak Risdiyono, kemaren siang dr. Erka juga menganalogikan sebuah perjalanan hidup ibarat kita sedang naik kereta

Autosave-File vom d-lab2/3 der AgfaPhoto GmbH

Autosave-File vom d-lab2/3 der AgfaPhoto GmbH

“kalo orientasi kalian itu koas, jadi dokter, ambil spesialis kerja di rumah sakit ya bakalan terasa lama. Coba kalian itu ngrasa kaya naik kereta, peka sama lingkungan, ajak orang yang duduk disebelahmu buat ngobrol, cerita resolusi hidup, menikmati pemandangan dari jendela. Menikmati sepanjang perjalanan. Kan nanti tau tau sampai (tujuan). Dan siapa tau orang yang duduk dibangku sebelahmu itu juga bakalan jadi temen hidupmu. Eh. Hidup itu ga perlu pinter, ga perlu pandai, ga perlu cerdas, yg diperluin itu pandai-pandai”

Teringat kata dosen sl kelompok sebelah,

“tahun satu atau pas masih di pre klinik, tengok-tengoklah dek temen satu angkatan kalian tu. Siapa tau jadi istri atau suaminya besok”

Entahlah dok..

fk, aku lalala padamu !

tralala I

Ga terasa udah hampir setaun jadi segelintir orang yang bisa dibilang emang iya rencananya ketunda. Ngerasa jadi orang paling bebal sekelas karna gagal masuk ptn. Gagal masuk fk. Aku masih inget banget pas dapet kelas Basic Industrial Engineering Design dari Pak Risdiyono, beliau mengatakan

“Memilih jurusan itu ibarat memilih kereta. Kita harus tahu nama kereta itu apa, dia mau kemana, jadwal keberangkatannya, jalur dan stasiun yang akan dilaluinya, kita mau turun di stasiun apa, setelah turun kita mau apa, kalau perlu kita harus tau siapa nama masinisnya sekalian sama nama staffnya yang kerja disana. In the first year, you have to find out your own passion. If this department is not actually that you want, you have two kind of choice, try to love this department, but  if it’s still not suitable for you, you can leave this department”.  kurang lebih sih gitu *abaikan grammar*

Ya, aku adalah orang yang cinta dengan dunia medis, tapi malah menikahi dunia engineering. Bego emang. Entah angin apa yang membawa sampe kesana dulu, tapi yang jelas, ketika ditanya tentang list cita – cita, aku cuma punya list itu kalo diterima di fakultas kedokteran.

apasih kamu, ga nyambung

Menurutmu ya Raf, ada satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan ketiga anaknya, sang ibu meninggal dunia kurang lebih 2 tahun yang lalu, “penyebabnya?” Kanker payudara kronis yang sudah tak teratasi semenjak 10 tahun silam karena masalah biaya. Ayahnya seorang lulusan fakultas ilmu agama yang tidak bekerja, anak pertamanya beberapa kali tidak naik kelas dan kerap membuat onar di sekolah dan akhirnya bebeapa kali pindah sekolah dan sampai sekarang belum lulus kuliah, anak keduanya mengeyam pendidikan kedokteran di salah satu universitas yang kita tahu biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit, sedang anak terakhir? sedang berjuang untuk lulus dan lolos saringan masuk perguruan tinggi negeri. Berharap semuanya akan lebih baik lagi ketika ia sudah jadi orang nanti. Sebagai penutup dari kedua kakaknya yang yaa.. bisa dibilang sukses dan mereka ibarat timur dan barat. sejauh nila setitik rusak susu sebelanga. “apasih kamu, ga nyambung”

destroy

Dengan keadaan yang seperti itu, sang ayah tidak lantas berusaha mencari jalan keluar, seringkali ia masih bisa tertidur pulas ketika seharusnya sarapan sudah tersedia di meja makan saat anak anaknya akan menuju ke sekolah, dia masih bisa tertidur pulas ketika 2 orang anaknya belum menikmati hidangan makan malam, bahkan sampai hati makan di rumah tetangga ketika kedua anaknya dirumah sedang kelaparan karena tidak ada makanan. Dia masih bisa menasehati bagaimana mengatur keluarga dengan dasar agama, padahal ia tahu keluarga di rumahnya pun tidak teratur bahkan mungkin tidak beragama. Sama sekali. Kira kira kalau kamu berada di lingkungan kaya gitu, kamu muak ga Raaf?

seperti tindakannya

seperti tindakannya

Mereka bilang, anak pertama mereka sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya? Meraka bilang, ia bisa menjadi jalan keluar untuk keluarga. Menurutku tidak. Ia masih sama saja. Bodoh, picik, licik, dan tidak mampu menjadi teladan bagi adik adiknya, ia masih sangat jauh dari kata berhasil. Sangat gagal. Bertindak dan berperilaku baik ketika keadaan memang memungkinkan. Menyuarakan dan mengajak orang lain untuk ikut di jalan yang benar dengan penuh kemunafikan. Ya. Mereka, para guru besar kehidupan benar, menjadi jahat memang jauh lebih menyenangkan. Ocehannya memang membosankan. Tau apa dia tentang cita-cita?

Ingin rasanya, berubah menjadi kecil seperti suku minimoys dalam film Arthur and The Minimoys, mengubah memori, taksonomi berpikir, dan paradigma kehidupan. Tapi apa daya, hanyalah aku butiran milo yang menghilang ketika diseduh air panas. Ketawa ku lirih. Cerita dari sore hari tadi oleh masa depan dari balik dinding kemustahilan. Sudah, hari sudah terlalu malam. Malah sudah terlalu pagi. Ayo tidur, siapa tau besok bangun ?!

Profesi Dokter dengan segala Kekurangannya

KU

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Pendidikan Dokter, jurusan yang tiap tahunnya masuk top ten jurusan favorit dan paling nge-hits di Indonesia. Mau negeri kek, mau swasta kek pasti favorit. Mau kampus Islami kek, dari Non-Islam kek pasti jadi inceran. Mau murah kek, mau mahal kek pasti jadi idaman calon mahasiswa dan ga menutup kemungkinan, orang tuanya juga. You’ve to believe me that, mayoritas orang tua di benua Asia itu masih punya mindset, kalo anaknya jadi dokter itu masa depannya cerah, pinter, kalem, ganteng atau cantik, mukaknya adem, keren, bisa dibanggakan, dan pastinya bisa jadi calon menantu idaman #eh, tapi dibalik itu semua banyak banget kontroversi di dunia kedokteran itu sendiri. (Terutama buat yang bener – bener pengen jadi dokter kudu baca ini tulisan dari awal sampe akhir ! )

Dari segi Ekonomi :

Fakultas Kedokteran (baca : Fakultas Kaya Kedokteran), seakan hanya orang dari golongan menengah keatas yang dapat menuntut ilmu di fakultas tersebut. Saya pun pernah dengar kabar bahwa mahasiswa yang UKT-nya (Uang Kuliah Tunggal) di golongan I dan II maksimal hanya 5% dari kuota total. Jadi, kalo satu angkatan ada 100 mahasiswa Pendidikan Dokter di Perguruan Tinggi Negeri, ya hanya 5 orang yang membayar uang kuliahnya 0 – < 2 juta, sisanya? ya bayar 5 – 21 juta ini kampus NEGERI lho (tidak perlu saya sebut nama kampusnya), apalagi di perguruan tinggi swasta, bahkan saya sempat tahu kalo ada FK yang baru biaya kuliah sampai lulusnya aja udah 550 juta dan itu belum koas.

Ah kamu lebay e mas, kan masih ada beasiswa? l yup, it’s true tapi beasiswamu tu berapa to? Sampai 1,5 juta per bulan po? Kalo pun dapet, paling cuma bisa buat meng-cover buku, kos, sama duit jajan doang. FYI : Buku Atlas Anatomi (wajib) Sobotta edisi 23 sekarang harga barunya udah 1,6 juta lho dek, boleh di cek di toko buku. #think again !

Kan masih bisa ngambil kerjaan part time mas? l yakin? Udah pernah cari – cari atau  nemu mahasiswa FK yang bisa part time? Kalo udah, tau kondisi mahasiswanya kaya apa? Dari segi IPK, kalo di kelas gimana, kiprahnya di kampus gimana, aktif apa engga? Kamu yakin bisa kaya dia? Tiap orang itu beda – beda lho dek. Dia bisa, belom tentu kamu juga bisa. #think again !

 Tapi kan ada mas yang dia kuliah di Kedokteran dan ga bayar sepersen pun sampai jadi dokter? l iyaa.. emang ada tapi itu cuma segelintir orang aja. (biar pada semangat)

 


Dari segi Sosial dan Budaya :

Dewasa ini, semakin banyak malpraktek di dunia kesehatan, orang baru sakit dikit pun udah banyak yang berobat ke Singapura, Malaysia, Filipina, USA, UK dll yang otomatis nambah devisa mereka dan semua itu di salahkan kepada dokter dalam negerinya, Indonesia.

Kok bisa gitu sih? l gini, Fakultas Kedokteran di Indonesia sendiri ada 72 fakultas, dengan 16 diantaranya telah terakreditasi A (4 dari PTS), 30 terakreditasi B, dan sisanya masih C bahkan ada yang belum terakreditasi. Nih liat disini nih. Banyaknya malpraktek di Indonesia dianggap sebagai salah FK di perguruan tinggi swasta yang katanya input mahasiswanya dinilai kurang “mumpuni”. Katanya sih gitu. Pertanyaan yang ingi saya ajukan kepada pihak yang berkata seperti itu ..

 di Indonesia ada sekitar 63 PTN, sedangkan FK PTN yang berakreditasi A hanya 14 yang berarti masih banyak pula PTN yang punya FK dengan akreditasi B dan C apakah semerta-merta hanya salah swasta? #think again !

tapi kan kalo bisa masuk di Universitas negeri berarti mereka masuknya bener – bener dari kemampuan intelektualitas mereka mas? l yakin? Bisa jamin 100% kalo di negeri ga ada mahasiswa yang masuknya modal duit doang? Bisa jamin kalo 100% mahasiswa yang di swasta itu ga bisa masuk negeri? Ada lho temen saya, yang udah dapet FK swasta akreditasi A dan malah ga ngejar negeri. Ada juga teman saya yang udah di swasta, tes dan dapet negeri, tapi malah negerinya yang dilepas. #think again !

 

Lagian dimana – mana, sebuah institusi pendidikan (semua institusi, tapi ini bahas FK) itu kalo mau akreditasi ya pasti dari C dulu, bebenah diri, nambah fasilitas, nambah dosen yang gelarnya udah beuh udah unfamiliar, nambah guru besar, professor, 5 tahun setelahnya re-akreditasi lagi, baru ke B, bebenah lagi, bikin RS Pendidikan, jalin kerjasama sama RS jejaring, puskesmas, ngecek track record alumninya, re-akreditasi lagi, baru deh ke A (kadang  ada yang apes masih B juga). Kan emang kaya gitu. Butuh proses. Engga sembarangan dan ga segampang, aku mau bikin program studi nih, tau – tau langsung jebret, akreditasinya A.

Kadang saya malah curiga kalo yang bilang dokter Indonesia ga kompeten, terkesan eksklusif, mahal, banyak yang ga bener, money oriented, ada yang ini-lah, itu-lah, apa segala macem,  dan masih banyak seabreg hujatan lainnya itu jangan – jangan omongan orang yang dulunya pengen jadi dokter tapi ga kesampaian.

 


Dari segi Pendidikan :

Tak jelasin secara gamblang. Gini,

Picture2

  • Lulus SMA umurmu 18 tahun. Kuliah di PSPD 3,5 tahun (paling cepet) = 21,5 tahun
  • Masih harus koas 1,5 – 2 tahun (pahitnya, anggap 2 tahun) = 23,5 tahun
  • Internship (ini program menurut saya agak ngawur) 2 tahun = 25,5 tahun
  • PPT (Pegawai Tidak Tetap, kadang jadi syarat buat ngambil PPDS) 1 tahun = 26,5 tahun

Ini estimasi kalo kamu kuliahnya lancar jaya kek pesawat terbang yang udah punya jalur sendiri dan ga ada lampu merahnya. Padahal, in fact, kamu masih harus Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diadain setahun 4 kali. Iya kalo kamu abis koas dan besoknya langsung ikut UKDI, kalo masih nunggu 4 bulan lagi? Iya kalo langsung lulus, kalo masih harus ngulang? Belom lagi harus nunggu surat-surat SIP (Surat Izin Praktek) STR (Surat Tanda Registrasi) yang punya tenggang waktu tersendiri? Anggaplah waktu yang dibutuhin sampai kamu bener – bener jadi dokter, umurmu udah 27 tahun. Terus mau nikah, mau dapet duit dari mana boi? belom lagi umur 35 itu syarat umur maksimal kalo mau ambil spesialis. It means, kamu cuma punya waktu 8 tahun buat nyari duit sekian puluh – ratus juta dengan anggapan umur 35 itu kamu lansung masuk bleng di PPDS tanpa harus daftar lagi tahun depan, padahal masih harus rival sama senior yang logikanya lebih jago daripada kamu. (penjelasan PPDS ada dibawah)

Kalo dibandingin sama temenmu non FK

  • Lulus SMA umur 18 tahun. Kuliah 3,5 tahun (paling cepet, biar fair) = 21,5 tahun
  • Abis ini? Ya udah, mereka cari kerjaan, 6 bulan – 1 tahun = 22,5 tahun. Mereka udah dapet gaji pertama, lhah kamu? Masih koas, udah ga dibayar malah disuruh bayar hahaha *ketawa setan*
  • Temenmu udah kerja 2 tahun, udah naik jabatan, dapet promosi apa segala macem = 24,5 tahun
  • Temenmu umur 26, Udah nyebar undangan buat nikah, udah kredit rumah, motor, mobil (apalagi yang dari Teknik) sedangkan kau orang masih Intership sama PTT.
  • Temenmu udah mapan pan pan, kamu baru bener-bener jadi dokter yang kadang masih bingung abis ini mau ngapain dulu ya, PPDS dulu, nikah dulu, atau mewujudkan mimpi – mimpi yang lain terlepas dari profesi dokter itu sendiri.

Ini kalo temenmu itu masuk jurusan non FK dan itu di Universitas atau Institut, mau dibandingin sama yang masuk Ikatan dinas yang belajarnya 1 – 3 tahun? Mendingan ga usah, ntar malah tambah nyesek.

Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Kebanyakan dokter di Indonesia punya keinginan buat ngambil spesialis, entah dalam negeri atau luar negeri (menurutku malah lebih ribet dan terkesan kurang on target) kalo dalam negeri sendiri biaya sumbangannya 50 – 60 juta dan SPP 6 – 8 juta per semester (jelas di NEGERI karna setau saya, swasta belom ada yang bukak PPDS), mana masuknya susah, mana masih harus rival sama senior, kuotanya dikit, ngulang lagi dari kasta paling bawah bahkan mungkin di bawah koas. Pendidikan 3-4 tahun untuk spesialis kecil dan > 4 tahun untuk spesialis besar mengharuskan dokter menyerahkan SIP dan STR-nya, itu artinya dia ga boleh buka prakter dokter umum selagi PPDS. Akibat jangka panjangnya, mahasiswa PPDS ga punya income selama kuliah. Mau makan dari mana kalo ga boleh praktek? Masih mau minta orang tua? Udah jadi sarjana, udah jadi dokter kok masih minta? (Buat yang Pak Dokter) mau bergantung sama Istrinya? (Buat yang mau atau udah jadi Istrinya Pak Dokter), dibantuin, disupport, sama yang sabar yaaa .., pekerjaan suamimu itu mulia kok, ntar kamu juga kena imbasnya yakin ! 🙂

Sebenernya masih banyak hal yang bisa disorot dari jurusan yang satu ini, dari persebaran dokter itu sendiri yang ga merata, sistem yan kalo dibandingin sama luar tempat kita masih ketinggalan jauh, KKN, Industri Farmasi dan MedRep, dll yang ga saya bahas disini ..

Intinya, semua profesi itu pasti ada yang bener ada yang kurang bener, jangan meng-generalisir suatu hal hanya karna ada satu yang kita anggap kurang pas. Pesan saya, jadi dokter itu prosesnya panjang dan berat banget dek, ga kaya dokter yang di FTV cuma mondar-mandir di dalem Rumah Sakit, pake snelli, modal stetoskop, keluar kamar operasi terus bilang sama keluarganya yang lagi nunggu di luar “saya sudah berusaha semaksimal mungkin” abis itu langsung ngacir pergi. Risikonya udah nyawa orang ini. Udah kebayang? kamu lagi menangani pasien dan pasien yang kamu tangani itu meninggal dunia? Udah tau gimana perasaanmu sama keluarganya? (dari tadi jeleknya mulu yang dikasih tau)

Udah tahu rasanya dapet ucapan dari pasien, “Dok, saya sudah sembuh dan sudah boleh pulang, Terima Kasih ya Dok :)” ?? (biar semangat)
Kalo udah siap dengan semua risikonya, dari mulai tes masuknya, ospek, kuliah, koas, UKDI, Internship, PTT sampai PPDS, Welcome to the Jungle ! Jangan sampai Indonesia kehilangan satu dokter yang punya niat tulus dan kompeten.
salam teman sejawat ! 🙂

 

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh


Sumber : Hati dan Pikiran
Link Terkait :

9 Hal Yang Wajib Kamu Tahu Jika Bermimpi Kuliah Di Jurusan Pendidikan Dokter

Orang Bodoh Yang Disebut Dengan DOKTER Umum

Sekilas Pendidikan Kedokteran di Indonesia, Sebuah Kontemplasi

Gimana sih mas sistem belajarnya anak – anak kedokteran? l nih part 1 sama part 2

Untitled

Sore ini aku liat tetanggaku (cah sma 7 juga kelas 1) pake baju pramuka lewat depan rumah, mas Bas dengan update-tan #ketikanya juga lagi mbahas masalah cis, dan berhubung aku lagi embuh dan seloo.. yupp mungkin cerita dibawah sama halnya kaya cerita – cerita cengeng yang udah sering kalian baca di cerpen, soal, atau novel – novel dipasaran ampe bosen, but this is about us

 

14

 

First thing first, Foto ini pure tanpa editan, ya gini ini aslinya, entah yang ambil siapa, tapi kalo ga salah, seingetku sih si Indra Darian. Ergo, I would like to say “thank you” Indra Darian Wicaksana which is sudi menawarkan diri mau ngambil foto kita berempat dalam satu frame yang untungnya pas itu udah di AF jadi fokus semua. Walaupun pencahayaan di Meyta paling bagus (menurutku).

 

Foto ini adalah saksi bisu masa kejayaan kita di jaman yang katanya tidak terlupakan. Katanya sih gitu. *nggaya mode on* Dulu kita mah sering banget jadi buronan ketua event – event bergengsi di sekolah wsc-lah, gtb-lah, cis-lah, donda-lah, gpbt-lah, lustrum-lah inilah itulah apa segala macem bahkan sampai proposalnya belom jadi, udah di lobi duluan buat ikutan jadi panitia dari yang internal sampai ekstenal, dari yang dananya puluhan atau ratusan ribu sampai jutaan, yang sebenernya masih banyak anak lain yang pengen ngikut jadi panitia, tapi kita malah udah bosen dan muak sama itu semua. Sampai – sampai.. masih inget ga kamu Met pas hanggara, diriku, dan dirimu mau ketemuan sama Yudha Purat  di perpus buat resign dari event apa gitu (kalo ga salah acara lustruman) buat ngurusin brata apa ya (?). Kamu udah di tungguin jemputan, tapi si Yudhanya malah ga nongol nongol, but finally kita bertiga nodong dia di depan ruang OSIS dan baam.. dia bilang..

        “trus enaknya di ganti siapa ya Raf?”

        “lhah.. aku kan udah bilang Yud, mending kamu buruan cari  A’raaf dan Meytanya angkatan 15”

Trus abis semua urusan itu kelar kamu cepet – cepet balik, but di balik layar si Hanggara marah – marah,

         “kowe ki reti ra e gunane kata ‘TIDAK’ ki diciptakan nggo ngopo? Nggo nolak reti ra e we?” -_-

but, it works, nowaday saya sudah berani bilang ‘TIDAK’ sampai keadaan yang sekarang ini

 

atau

pas aku karo kowe Tul, sore – sore neng gedung induk bareng Laras, Upik mbahas warna kaos karo desain e muter – muter, dari A ke B, B ke C, C ke D, balik lagi ke A, A ke A’, yang menurut opini kita, mending warna kaosnya itu putih dan sablonan designnya itu coklat dan logo CIS kecil (aja) di bagian belakangnya, tapi mereka ga mau warna putih karna kalo putih itu gampang kotor, dan akhirnya sampai mau angkat cetak pun si Mukhes isih njaluk di revisi (hadeehh…) but no problem, it’s okay, at least at the time we’ve just learned about what the actually meaning of discussion is. FYI : Kabeh kertas e + desain sing tok print hitam putih kae + coret – coretannya juga masih tak simpen.

 

atau

pas aku karo Akbar neng ngomah mu Tul mbengi – mbengi, ngurus spanduk po opo ngono (yang harus jadi besok pagi nek ra salah, pokok e kuwi genting banget), trus neng nggone mas mu oprek – oprek desain neng komputer kono, tapi ternyata komputer e yo lemot e naudzubillah..

 

atau

aku dengan gampangnya ngewangi kowe terus Bar neng Kajian Internal which is wonge sing lanang sing melu iso di itung nggo driji. Ya dan itu tiap bulan.

 

Semua momen – momen itu berhasil kita kerjakan, improve (halah), dan dokumentasikan dengan baik, dan masih tak simpen semua. Yupp semuaa.., file CIS yang gedhenya 30 GB itu juga masih tak simpen, one thing that you’ve to know is not easy peasy as you think nyimpen file segedhe itu dari kelas 1 sampai 3 SMA. Netbook tambah lemot karna dengan terpaksa aku nyimpen file-nya di Local Disk C juga soalnya Data D udah penuh, but lucky me sekarang gue udah punya HD jadi udah rada lega storage-nya.

 

The last one, ya mungkin tulisan ini dan tulisan di bawah *if you know what I mean* rada alay, but you know? when we are work together it was a great day in my life, honestly.. semua event kelar dan berakhir dengan keren. Sukses terus ya guys dan jangan lupa doakan saya yang sedang berusaha buat mengejar cita – cita, saya beruntung dan sangat bersyukur telah mengenal kalian, Mukhoirotul Khomsah, Meyta Nur Safrina, Akbar Fatkhi

Yogyakarta, 17 Desember 2014

 

cats

Pabrik di Sistem Pendidikan Indonesia

Apa yang Anda Pikirkan?

“Sistem pendidikan di Indonesia tak lebih dari sebuah pabrik. Mencetak bahan mentah (anak-anak) menjadi produk jadi siap pakai untuk memenuhi berbagai macam tuntutan hidup. Produksi dijalankan sesuai dengan pedoman yang sebelumnya telah disepakati oleh petinggi perusahaan. Dan birokrasi raksasa muncul untuk mengontrol, mengukur, dan mengelola upaya raksasa ini.

Baca lebih lanjut

Ini negara Indonesia, bukan Jepang

Apa yang Anda pikirkan?

 

Ini yang sedang Aku pikirkan..

“Setelah kurang lebih 350 tahun (3,5 abad) Belanda menjajah Indonesia, kemudian datanglah bangsa Jepang (yang ngakunya sebagai saudara tua bangsa Indonesia) dengan iming-iming menjanjikan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia, akhirnya mereka bisa juga masuk ke Indoensia tapi, ujung-ujungnya juga mereka cuma menjajah bangsa Indonesia kurang lebih selama 3,5 tahun.

 

Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu orang rakyat Indonesia tanpa dosa, menderita dan akhirnya mati saat membela bangsa. Mati dengan cara mengenaskan jauh melebihi saat Indonesia dijajah oleh Belanda. 68 tahun sudah Indonesiaku merdeka, dan BESOK PAGI, 28 Oktober 2013 gw harus belajar bahasa yang pernah buat saudara-saudara sebangsa gw hidup menderita??

 

Beginikah kita?

 

Ada yang bisa jelasin kenapa pelajaran Bahasa Jepang bisa masuk ke sistem Pendidikan di Indonesia?”

 

#f_cklogic #suara_akar_rumput